SEMARTARA – Semakin pesatnya teknologi yang tak seiring terhadap pentingnya pengenalan seni dan budaya tradisional kepada generasi muda, akan berdampak pada menurunnya nilai-nilai budaya atau dekadensi moral. Untuk itu, pengembangan dan pelestarian seni dan budaya tradisional menjadi hal yang penting agar generasi milenial tidak terlena oleh arus perkembangam zaman, serta tetap menjadi generasi yang maju dan moderen tetapi tidak lupa dengan jati dirinya sebagai anak bangsa yang berbudaya.
Untuk ambil bagian sebagai motor penggerak dalam mengenalkan seni dan budaya tradisional kepada generasi muda, Mbangun Karso kampanyekan gerakan cinta budaya tradisional. Salah satu kegiatan yang saat ini mulai dilakukan adalah mengenalkan tokoh-tokoh dalam cerita legenda dan pewayangan melalui seni musik kontemporer campursari.
Pengasuh Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis, Ananta Wahana, mengatakan bahwa Mbangun Karso adalah bagian dari padepokan yang ia kelola, dan bergerak pada pengembangan serta pelestarian seni-budaya tradisional. Selain Mbangun Karso, berbagai kegiatan seperti diskusi dengan para tokoh Nasional, pelatihan kewirausahaan, hingga pembasisan Pancasila pun selalu digelar di padepokan tersebut.
Sementara itu, Widi Hatmoko sebagai promotor seni dan budaya di Mbangun Karso menambahkan, di era teknologi saat ini perlu adanya dorongan yang kuat dalam mengenalkan kearifan lokal pada generasi milenial. Untuk itu, sebagai sarana hiburan, campursari yang ia kelola juga merupakan wadah dalam menyebarkan virus-virus kebudayaan.
“Campursari adalah jenis musik kontemporer yang berakar pada musik gamelan Jawa. Melalui kesenian ini kami mencoba mengedukasi dengan menjadikan para penyanyi dan pelaku seni rersebut tampil ala tokoh cerita legenda dan pewayangan. Seperti Arjuna, Srikandi, Gatotkaca, Punakawan atau tokoh-tokoh legenda dalam cerita dan sejarah seperti Jaka Tingkir, Jaka Tarub dan lain sebagainya,” ujar Widi Hatmoko.
Menurut Widi, pengembangan dan pelestarian seni dan budaya tradisional ini, tidak hanya pada musik kontemporer campursari saja, tapi juga seni tradisional lainnya, terutama seni dan budaya tradisional yang berkembang di wilayah Tangerang.
“Kita juga akan kembangkan seni musik gamelan, terutama untuk meregenerasi, agar kesenian ini tetap lestari dan dicintai oleh masyarakat,” katanya. (Red)