Berita  

Malu Pangkal Selamat

Cerita Kawan, Malu Pangkal Selamat
Dedy Rachmadi (Pemerhati Masalah Perkotaan)

Jakarta, Semartara.News – Petang hari menjelang maghrib, seorang kawan yang masih satu lingkungan di RW tempat saya tinggal datang menyambangi rumah. Keperluannya untuk mengembalikan oximeter yang selesai dia gunakan mengukur saturasi penghuni indekost miliknya karena mengeluhkan gejala sesak napas.

Kawan saya ini dikenal sebagai ketua komunitas Pemuda Peduli Lingkungan Hidup di wilayahnya. Sembari menyerahkan dan mengucapkan terima kasih, sebagai sesama akamsi (anak kampung sini) dirinya langsung curcol alias curhat colongan pada saya yang juga bagian dari komunitas tersebut.

Inti curhatan sekilas itu sebagai ketua komunitas pada masa pandemi, dirinya merasa beruntung tidak jadi kehilangan muka karena mendahulukan rasa malu. Menurutnya, perasaan tersebut bisa muncul jika anggota komunitasnya banyak yang terpapar virus corona.

Apalagi penyebabnya karena sering berkumpul dalam kegiatan komunitas. Bisa muncul tudingan kasus covid cluster komunitas Pemuda Peduli Lingkungan di masyarakat, belum lagi jika menularkan banyak orang, dirinya khawatir menjadi yang paling dipersalahkan. Maka seluruh aktivitas komunitas untuk sementara langsung dia berhentikan.

Masalahnya setiap hari muncul ajakan untuk berkumpul untuk ngeliwet dan ngopi bareng dari tongkrongan akamsi lain yang lebih senior usianya di lingkungan setempat. Menolak ajakan senior dirasakan tidak mudah. Dalam whatsapp group (WAG), dirinya kerap menjadi sasaran bully jika tidak menanggapi ajakan.

Mulai dari dibilang penakut, terhasut berita bohong rekayasa corona, tidak mau lagi berteman dan bullying sejenisnya. Akhirnya kawan saya ini menenggang rasa datang memenuhi undangan tersebut, mengajak anggota komunitas lainnya ikut nimbrung kongkow di tongkrongan yang jelas jauh dari disiplin prokes. Tidak ada jaga jarak dan enggan memakai masker ketika makan, ngopi dan ngobrol.

Setelah beberapa kali memenuhi undangan, akhirnya diputuskan oleh kawan saya, anggota komunitasnya untuk tidak datang lagi. Meskipun banyak bully-an di WAG yang masuk, kali ini dia bergeming tidak menanggapi. Dan benar saja, beberapa waktu terdengar kabar banyak yang nimbrung kongkow di situ positif Covid-19, namun sebagian besar yang terpapar tidak mau melaporkan. Bahkan yang terindikasi gejala sedang pun, masih terlihat berinteraksi dan keluar rumah.

“Untung buru-buru gua tarik, temen-temen dari tongkrongan itu bro dan alhamdulillahnya anggota gak ada yang positip. Kalo enggak abis gua malu sama warga, apalagi kalo sampe dibilang covid cluster komunitas pemuda peduli lingkungan, abis dah gua. Situasi enggak pandemi aja banyak yang enggak suka sama kegiatan komunitas, apalagi kalo sampe banyak yang kena, bisa jadi alasan buat nyetop kegiatan komunitas. Selamet dah gua jadinya”.

Malu dan sikap tahu batas (moderasi)

Selepas kawan ini pulang, saya berpikir tampaknya mengedepankan rasa malu menjadi hal yang sangat penting agar kita semua selamat melewati masa pandemi ini.  Perlu diupayakan menjadikan malu sebagai kebiasaan dalam mempertimbangkan ucapan, tindakan sebelum dilaksanakan.

Kita perlu mengembangkan sikap tahu batas (moderasi) dalam berhubungan dengan sesama. Karena panjang pendeknya durasi pandemic ini, sangat ditentukan oleh kemampuan kita menahan diri melakukan kebiasaan lama dan malu jika tidak beradaptasi dengan kebiasaaan baru. Tidak tahu batas dan tidak tahu malu melanggar 5M konsekuensinya adalah semakin panjangnya masa pandemic, karena rantai penularan yang tidak berkesudahan dan tingginya resiko kematian.

Malu kolektif terbesar kita dalam situasi pandemi ini menurut saya adalah, ketika Indonesia  dinyatakan oleh dunia sebagai negara yang termasuk sangat buruk penanganan pandeminya. Tingkat kematian yang tinggi salah satu indicator yang menyebabkan banyak negara melakukan “isolasi” terhadap Indonesia.

Melarang warganya pergi ke Indonesia, sebaliknya menolak warga negara Indonesia masuk ke negara mereka. Di mata internasional seolah-olah kita ini negara yang tidak memiliki tenaga kesehatan yang baik, fasilitas kesehatan yang tidak memadai, tata kelola penyediaan alkes dan farmasi yang stabil serta pengendalian kedisplinan masyarakat yang tidak efektif. Bahwa semua negara di dunia juga terguncang kita semua mahfum, yang membedakan adalah seberapa lama negara tersebut mampu segera bangkit.

Menurut saya penilaian internasional terhadap Indonesia bukan untuk kita ratapi dan menjawabnya dengan tudingan konspirasi. Akan lebih bermakna jika rasa malu oleh pemimpin ditransformasi menjadi energi bersama untuk menjawab tudingan itu.

Apalagi kita memiliki rekam jejak yang kuat dalam menghalau pandemi di era pemerintahan Bung Karno, dengan Dokter Kodiyat yang menjadi panglima kesehatannya. Dunia mengakui metode penanganannya efektif meredam pandemi frambosia dengan tindakan pencegahan yang diutamakan.

Dalam kasus Indonesia, Menteri Kesehatan juga mengakui bahwa upaya pencegahan melalui 3T (test, tracing dan treatment) masih jauh dari target yang ditetapkan. Demikian juga dengan Dinas Kesehetan Provinsi DKI Jakarta menyatakan,menurunnya target 3T salah satu yang menyebabkan deteksi dini terhadap ledakan covid sempat tidak terkendali.

Artinya, dengan mengakui bahwa ada kekurangan dalam penanganan pandemic yaitu tidak mengacu secara ketat pada ilmu epidemiologi aspek pencegahan, dapat kita artikan sebagian dari rasa malu yang memantik upaya perbaikan. Agar rasa malu tidak berulang sebaiknya pengambil keputusan untuk segera mengembangkan metode pencegahan 3T dengan skala yang lebih mikro dan melibatkan unsur jejaring kesehatan yang sudah ada di masyarakat dengan tugas yang lebih spesifik lagi.

Focus berikutnya adalah Pemimpin juga harus banyak bicara dan banyak bekerja terutama menyasar kepada kelompok-kelompok yang bersikap tidak tahu batas tetap melakukan kebiasaan lama dan tidak malu melanggar 5M, meskipun secara survey electoral kelompok tersebut adalah pendukungnya.

Pemimpin jangan takut kehilangan suara ketika pemilu kelak, justru  jika mampu mentransformasi kelompok non moderatif menjadi tahu batas dan malu melanggar prokes akan menjadi warisan ingatan yang menarik simpati lebih luas pada akhirnya.

Sedemikian krusialnya rasa malu dan tahu batas agar terpelihara kemanusiaan kita, meskipun terkadang untuk menebusnya dalam budaya masyarakat tertentu harus diganjar dengan hukuman bandan, membayar denda, pembuangan, penghilangan nyawa bahkan bunuh diri.

Dalam skala yang lebih besar, malu dapat menjadi kredo pemantik kemajuan sebuah peradaban. Banyak cerita kemajuan sebuah negara misalnya, berhasil mengejar ketertinggalan dengan negara lain, dipicu rasa malu karena pernah direndahkan.

China, Korea Selatan, Israel contoh beberapa bangsa yang maju berangkat dari membayar masa lalu yang pernah dipermalukan oleh bangsa lain. Dan dalam situasi krisis ini tampaknya kita memang harus semakin meningkatkan upaya melalui saluran formal dan non formal yang ada agar kita semua semakin sadar bersikap tahu batas (moderatif) dan mengedepankan rasa malu terturama para pemimpin agar Indonesia dipastikan bisa selamat.

Dedy Rachmadi (Pemerhati Masalah Perkotaan)

Tinggalkan Balasan