Opini, Semartara.News – Kegiatan Culinary Day yang berlangsung di Alun-Alun Kota Tangerang menghadirkan suasana malam yang berbeda dari biasanya. Ruang publik yang kerap digunakan untuk bersantai dan berolahraga ini berubah menjadi pusat keramaian masyarakat melalui perpaduan festival kuliner dan pertunjukan musik. Penampilan Spontan Music Official serta Nadhif Basamalah menjadi daya tarik utama yang mengundang antusiasme pengunjung dari berbagai kalangan, terutama generasi muda.
Kehadiran acara ini menunjukkan bahwa ruang publik tidak lagi bersifat pasif, melainkan aktif sebagai tempat berlangsungnya interaksi sosial dan hiburan. Alun-alun berfungsi sebagai ruang bersama yang memungkinkan masyarakat berkumpul, menikmati sajian kuliner, sekaligus menyaksikan pertunjukan musik secara terbuka. Dalam konteks ini, kegiatan kuliner tidak hanya berkaitan dengan aktivitas jual beli, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman sosial yang lebih luas.
Secara tidak langsung, kolaborasi antara kuliner dan musik merupakan strategi yang cukup efektif untuk menarik minat masyarakat. Musik berperan sebagai magnet yang menghadirkan massa, sementara kuliner menjadi penopang utama aktivitas ekonomi kreatif. Kehadiran musisi yang dikenal luas seperti Nadhif Basamalah memberi nilai tambah terhadap acara, sekaligus memperkuat citra kegiatan sebagai hiburan publik yang relevan dengan selera anak muda saat ini.
Namun, dominasi hiburan musik juga perlu dicermati secara kritis. Ketika perhatian pengunjung lebih terfokus pada penampilan artis, tujuan utama pengenalan dan apresiasi terhadap ragam kuliner lokal berpotensi terpinggirkan. Oleh karena itu, penyelenggara perlu merancang konsep acara yang lebih seimbang, misalnya dengan menghadirkan sesi edukasi kuliner atau promosi produk lokal yang lebih terstruktur.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah pengelolaan keramaian. Jumlah pengunjung yang besar menunjukkan tingginya minat masyarakat, tetapi sekaligus menuntut kesiapan dari segi keamanan dan kenyamanan. Pengaturan arus pengunjung, fasilitas umum, serta pengawasan menjadi faktor penting agar kegiatan publik semacam ini dapat berlangsung secara tertib dan aman.
Secara keseluruhan, Culinary Day di Alun-Alun Kota Tangerang dapat dipandang sebagai contoh pemanfaatan ruang publik yang produktif dan positif. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperkuat interaksi sosial serta mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif lokal. Dengan pengelolaan yang matang dan konsep yang tepat, acara serupa berpotensi menjadi agenda rutin yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat kota.
Penulis: Sheren Jean Amanda, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tangerang. (*)







