Opini, Semartara.News – Di era digital, data telah menjelma menjadi aset paling berharga. Mulai dari identitas pribadi, transaksi keuangan, hingga rekam medis, semuanya tersimpan dalam sistem digital. Ironisnya, semakin penting data, semakin sering pula kita mendengar kabar kebocoran, manipulasi, dan penyalahgunaannya. Kepercayaan publik terhadap sistem digital pun perlahan terkikis.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana data disimpan, melainkan siapa yang memegang kendali atas data tersebut dan seberapa aman ia dijaga. Di tengah kegelisahan ini, teknologi blockchain hadir membawa pendekatan yang berbeda bahkan cenderung radikal dalam mengelola keamanan dan transparansi data.
Masalah Utama Sistem Digital Saat Ini terlalu Terpusat
Sebagian besar sistem digital yang kita gunakan saat ini dibangun dengan model terpusat. Data disimpan dalam satu atau beberapa server utama yang dikelola oleh institusi tertentu. Model ini memang efisien, tetapi menyimpan risiko besar. Ketika server pusat diretas atau disalahgunakan, dampaknya bisa meluas dan merugikan jutaan pengguna.
Kasus kebocoran data yang berulang menunjukkan bahwa persoalan keamanan bukan semata-mata soal lemahnya sistem teknis, melainkan juga ketergantungan pada satu otoritas pengelola data. Dalam kondisi ini, publik tidak memiliki banyak pilihan selain “percaya” bahwa data mereka dikelola dengan baik.
Blockchain dan Perubahan Cara Pandang terhadap Kepercayaan
Berbeda dengan sistem konvensional, blockchain bekerja dengan prinsip desentralisasi. Data tidak disimpan di satu pusat kendali, melainkan tersebar di banyak komputer dalam satu jaringan. Setiap data atau transaksi yang masuk harus diverifikasi bersama oleh jaringan sebelum dicatat secara permanen.
Kepercayaan dalam blockchain tidak dibangun melalui lembaga atau otoritas, tetapi melalui mekanisme sistem dan konsensus kolektif. Inilah yang membuat blockchain sering disebut sebagai teknologi yang “menghilangkan kebutuhan untuk saling percaya” karena sistemlah yang menjamin keabsahan data.
Sekali data tercatat dalam blockchain, ia bersifat immutabel tidak bisa diubah tanpa persetujuan jaringan. Setiap upaya manipulasi akan langsung terdeteksi karena tidak sesuai dengan salinan data lain yang tersebar di jaringan.
Keamanan Data yang Tidak Bergantung pada Satu Pintu
Dalam keamanan digital, blockchain menghilangkan konsep “satu pintu” yang rentan ditembus. Peretas tidak cukup hanya menyerang satu server untuk mengubah data. Mereka harus menguasai mayoritas jaringan secara bersamaan, sesuatu yang secara teknis sangat sulit dan mahal.
Selain itu, penggunaan kriptografi membuat setiap transaksi memiliki identitas digital unik. Dengan demikian, blockchain tidak hanya menjaga keamanan data, tetapi juga menyediakan jejak audit yang transparan dan dapat ditelusuri.
Transparansi inilah yang menjadi nilai penting, terutama dalam sektor-sektor yang selama ini rawan manipulasi data.
Dari Keuangan hingga Kesehatan: Blockchain dalam Praktik
Penerapan blockchain tidak lagi terbatas pada mata uang kripto. Di sektor keuangan, teknologi ini memungkinkan transaksi berlangsung lebih cepat tanpa harus melalui banyak perantara. Biaya operasional pun dapat ditekan secara signifikan.
Dalam dunia logistik, blockchain membantu memastikan keaslian dan perjalanan suatu produk. Konsumen dapat mengetahui asal-usul barang secara transparan, sementara pelaku usaha dapat meminimalkan kecurangan dalam rantai pasok.
Sektor kesehatan juga mulai melirik blockchain sebagai solusi penyimpanan rekam medis. Pasien tidak lagi sekadar menjadi objek data, tetapi memiliki kendali atas siapa yang boleh mengakses informasi kesehatannya. Di tengah maraknya penyalahgunaan data medis, pendekatan ini menjadi sangat relevan.
Lebih dari Sekadar Teknologi: Soal Etika dan Tata Kelola
Meski menjanjikan, blockchain bukan teknologi tanpa tantangan. Implementasinya membutuhkan kesiapan infrastruktur, regulasi yang adaptif, serta literasi digital masyarakat. Tanpa pemahaman yang memadai, blockchain justru berpotensi disalahgunakan atau hanya menjadi jargon teknologi semata.
Selain itu, pertanyaan etis juga muncul, sejauh mana transparansi data boleh dibuka? Bagaimana menyeimbangkan keterbukaan informasi dengan perlindungan privasi? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa blockchain bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan sosial dan kebijakan publik.
Blockchain dan Masa Depan Pengelolaan Data
Ke depan, blockchain berpotensi menjadi fondasi bagi sistem digital yang lebih adil dan akuntabel. Konsep seperti Blockchain as a Service (BaaS) memungkinkan organisasi mengadopsi teknologi ini tanpa harus membangun sistem dari nol, sehingga membuka peluang penggunaan yang lebih luas.
Lebih dari itu, blockchain mendorong perubahan cara kita memandang data bukan sebagai sesuatu yang dimonopoli oleh segelintir pihak, tetapi sebagai aset bersama yang dikelola secara transparan dan bertanggung jawab.
Krisis kepercayaan terhadap sistem digital menuntut solusi yang tidak sekadar tambal sulam. Blockchain hadir dengan tawaran perubahan mendasar, menggeser kepercayaan dari manusia dan institusi ke sistem yang terbuka dan terverifikasi.
Meski belum sempurna, blockchain telah membuka diskusi penting tentang masa depan keamanan dan transparansi data. Di era ketika informasi menjadi kekuatan, teknologi ini mengingatkan kita bahwa kepercayaan adalah fondasi utama dari dunia digital yang berkelanjutan.
Penulis: Lapina, Mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, UIN SMH Banten. (*)







