Opini, Semartara.News – Film Kartini (2017) mengangkat perjuangan R.A. Kartini melawan patriarki dan diskriminasi, menginspirasi perempuan Indonesia untuk terus berjuang mencapai kesetaraan dan kemajuan di era modern.
Peringatan Hari Kartini dan Relevansinya di Era Modern
Hari Kartini, yang diperingati setiap 21 April, bukan sekadar seremoni tahunan. Peringatan ini menjadi momen refleksi tentang perjuangan perempuan Indonesia dalam meraih pendidikan dan kesetaraan. Film Kartini (2017) karya Hanung Bramantyo menghadirkan kembali sosok Raden Ajeng Kartini, yang dikenal melalui surat-suratnya yang kritis terhadap ketidaksetaraan gender dan pembatasan pendidikan perempuan (Kartini, 1984).
Film ini relevan untuk generasi modern karena menghubungkan sejarah perjuangan Kartini dengan tantangan perempuan masa kini, seperti diskriminasi gender di sekolah, pekerjaan, dan lingkungan sosial (Edukatif.org).
Menguak Kompleksitas Perjuangan Kartini: Efek Kognitif Film
Film Kartini memberikan wawasan baru tentang sejarah emansipasi perempuan Indonesia:
- Melawan Tradisi Patriarki: Menyoroti pingitan, poligami, dan pembatasan perilaku perempuan bangsawan.
- Perempuan sebagai Agen Perubahan Sosial: Kartini membuka akses pendidikan bagi semua kalangan.
- Koneksi Internasional: Korespondensi dengan sahabat Belanda menunjukkan perjuangan perempuan bersifat global.
- Visualisasi Emosional: Adegan konflik batin dan penderitaan Kartini meningkatkan kesadaran penonton.
- Relevansi Masa Kini: Menghubungkan perjuangan Kartini dengan isu gender modern, termasuk stereotip di lingkungan kerja.
- Kartini sebagai Role Model: Sosok cerdas, gigih, dan kritis yang melawan stereotip perempuan Jawa pasif.
Efek Afektif Film: Membangun Empati dan Kesadaran
Film Kartini juga menekankan perjuangan emosional Kartini:
- Konflik batin terkait tradisi pingitan dan diskriminasi kelas membangkitkan empati audiens (Sari et al., 2022).
- Kartini ditampilkan sebagai intelektual, pendiri sekolah, dan penggerak sosial, menentang stereotip perempuan pasif (Ilyas et al., 2024).
- Musik melankolis dan akting Dian Sastro memicu emosi haru dan marah terhadap ketidakadilan, meningkatkan kesadaran akan isu kesetaraan gender (Vidio, 2025).
Efek afektif ini membuat audiens lebih peduli dan proaktif terhadap kesetaraan gender (Sembiring, 2022).
Efek Konatif Film: Mendorong Tindakan Nyata
Film Kartini mendorong audiens untuk meniru semangat Kartini dalam kehidupan modern:
- Pemberdayaan Diri melalui Pendidikan: Mengembangkan intelektualitas dan keberanian menyuarakan keadilan (Kumparan, 2017).
- Meniru Perilaku Positif Kartini: Bersikap kritis terhadap tradisi yang usang dan membangun lembaga pemberdayaan (Formadiksi UM, 2025).
- Meningkatkan Literasi dan Pendidikan: Giat membaca, melanjutkan pendidikan, dan menggunakan ilmu untuk membantu orang lain.
- Menyuarakan Keadilan Gender & Pemberdayaan Komunitas: Mendukung kegiatan pemberdayaan perempuan kurang mampu, sejalan dengan usaha Kartini mendirikan sekolah dan UKM kerajinan.
Kesimpulan: Warisan Kartini untuk Perempuan Modern
Film Kartini (2017) memperlihatkan bahwa perjuangan Kartini bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga melawan diskriminasi kelas, patriarki, dan feodalisme. Pesan film bekerja secara bertahap:
- Kognitif: Memberikan pemahaman kompleks tentang perjuangan Kartini.
- Afektif: Membangkitkan empati dan kesadaran emosional.
- Konatif: Mendorong tindakan nyata seperti literasi, menyuarakan keadilan, dan pemberdayaan komunitas.
Dengan demikian, film ini menjadikan sejarah Kartini sebagai inspirasi konkret bagi kemajuan perempuan Indonesia di era modern.
Daftar Pustaka
- Bramantyo, Hanung. Kartini. Film. Jakarta: Legacy Pictures & Screenplay Films, 2017.
- R. A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang. Jakarta: Balai Pustaka, 1984.
- Makna Perjuangan R.A Kartini bagi Perempuan Modern, diakses 18 November 2025.
- Sari, Juwita, dkk. “MOOD CUES DALAM FILM KARTINI.” Online Journal of ISI Yogyakarta 10, no.1 (2022).
- Sembiring, Maya Rujita. “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Film Kartini karya Hanung Bramantyo.” Skripsi, Universitas PGRI Yogyakarta, 2022.
- Ilyas, dkk. “Representasi Stereotype Perempuan dalam Film Kartini (2017).” IJHSS 3, no.1 (2024).
- Vidio. “Sinopsis Film Kartini dan 5 Kelebihan Film Hanung Bramantyo.” Diakses 18 November 2025.
- Kumparan. “Hanung Bramantyo: Film Kartini Bukan Sekedar Biografi.” 18 April 2017.
- Formadiksi UM. “Resensi Film Kartini.” Diakses 18 November 2025.
Penulis: Feri Andika
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten. (*)







