Tangerang, Semartara.News — Pada pagi itu, lapangan SMA Negeri 18 Kabupaten Tangerang tampak tidak seperti biasanya. Siswa-siswi duduk tertib, namun ada keheningan khusus yang menandakan bahwa acara hari itu bukan sekadar kegiatan rutin. Mereka berkumpul bukan hanya untuk mendengarkan pidato, melainkan untuk menyadari masalah yang sering terjadi secara diam-diam: perilaku perundungan.
Dipandu oleh Wakil Direktur Pamong Praja dan Pembinaan Masyarakat (Wadirpamobvit) Polda Banten, AKBP Mirodin, acara tersebut menyampaikan pesan sederhana namun mendalam: “Mari Bersama Lawan Bullying dan Perundungan.”
Kepala Sekolah, Hj. Mariani, bersama para pejabat lain, berdiri menyaksikan. Di wajah siswa-siswi, terlihat campuran rasa ingin tahu dan harapan—mungkin ada yang pernah menjadi korban, ada yang menjadi saksi, atau bahkan yang tanpa disadari pernah terlibat sebagai pelaku.
Dalam pidatonya, AKBP Mirodin tidak menggunakan nada memarahi. Ia berbicara tentang masalah bullying seperti seseorang yang paham akan luka batin manusia.
“Perundungan bukan hanya soal kekerasan fisik,” ungkapnya dengan lembut. “Kata-kata yang menghina, tindakan pengucilan, atau perilaku yang membuat orang lain merasa tidak nyaman… semua itu bisa meninggalkan jejak yang sulit dihapus.”
Beberapa siswa tampak menunduk, mungkin mengingat pengalaman pribadi yang selama ini mereka pendam. Yang lain mengangguk perlahan, seolah setuju bahwa perundungan tidak boleh lagi dianggap remeh.
AKBP Mirodin kemudian menjelaskan bahwa perundungan tidak hanya melukai korban. Pelaku juga menghadapi dampak jangka panjang, mulai dari masalah sosial hingga risiko hukum. “Setiap tindakan memiliki konsekuensinya,” katanya. “Dan kalian, kaum muda, pantas tumbuh di tempat yang aman.”
Ia menekankan lima poin penting kepada para siswa: pahami dampak bullying, bangun empati, hargai keragaman, pilih teman bergaul yang positif, dan ingat bahwa hukum melindungi semua orang dari kekerasan, termasuk perundungan.
Beberapa siswa saling pandang—mungkin mulai merenungkan tindakan kecil yang pernah mereka lakukan, seperti lelucon berlebihan, ejekan yang dianggap ringan, atau diam saat melihat teman diperlakukan tidak adil.
Menutup acara, AKBP Mirodin mengingatkan bahwa masa depan Indonesia ada di tangan mereka. “Tanamkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap langkah. Kalian adalah bagian dari Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Setelah upacara berakhir, angin pagi seakan membawa pesan itu ke seluruh lapangan sekolah—pesan tentang keberanian, empati, dan perubahan kecil yang dimulai dari diri sendiri. Pada hari itu, generasi muda di SMA 18 tampaknya mengambil langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan penuh kemanusiaan. (*)







