Opini, Semartara.News — Kemampuan berbicara di depan umum merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki mahasiswa. Sayangnya, tidak semua mahasiswa dapat tampil percaya diri ketika harus menyampaikan pendapat, bertanya, atau mempresentasikan materi di kelas. Public speaking anxiety—kecemasan berbicara di depan umum—menjadi salah satu penghambat utama proses pengembangan diri di lingkungan kampus.
Fenomena ini sangat nyata. Misalnya, banyak mahasiswa sebenarnya memiliki pendapat kritis atau gagasan brilian yang berpotensi memperkaya diskusi kelas. Namun, rasa takut dinilai salah atau khawatir pendapatnya tidak relevan membuat mereka memilih diam. Akibatnya, ide yang seharusnya dapat berkembang menjadi insight baru hanya berhenti di kepala mereka sendiri.
Situasi serupa terjadi saat mahasiswa melakukan presentasi. Rasa gugup, jantung yang berdebar lebih cepat, pikiran negatif, hingga perasaan tidak pantas karena menganggap audiens “lebih pintar” menjadi tekanan tersendiri. Bagi sebagian mahasiswa, kecemasan ini bahkan menular pada kinerja kelompok—misalnya ketika ada anggota yang terlalu cemas hingga tidak menjalankan bagian tugasnya dan akhirnya membebankannya kepada orang lain.
Mengapa Mahasiswa Mengalami Public Speaking Anxiety?
Dilihat dari perspektif psikologis, terdapat beberapa faktor yang menjadi pemicu utama kecemasan berbicara di depan publik:
1. Takut Dinilai (Fear of Judgment)
Mahasiswa sering kali takut dikritik, ditertawakan, atau dianggap “tidak bisa”. Pikiran seperti “nanti salah ngomong nggak ya?” membuat mereka merasa tidak aman dan memilih menghindar.
2. Kurang Percaya Diri
Merasa suara tidak jelas, khawatir penampilan kurang menarik, atau menganggap diri tidak mampu berbicara di depan banyak orang membuat mental mereka melemah sebelum mencoba.
3. Overthinking
Kecemasan sering muncul dari skenario buruk yang belum tentu terjadi—takut blank, takut salah materi, atau takut tidak bisa menjawab pertanyaan. Padahal, sebagian besar kekhawatiran ini tidak pernah benar-benar terjadi.
4. Anxiety Sosial
Sebagian mahasiswa memiliki tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi. Gejalanya tampak secara fisik seperti wajah pucat, tangan berkeringat, tubuh kaku, atau suara bergetar.
5. Trauma Pengalaman Buruk
Pernah dipermalukan, ditertawakan, atau dikritik secara berlebihan dapat menimbulkan trauma yang membuat seseorang takut mengulang peristiwa serupa.
6. Kurang Persiapan
Persiapan yang minim membuat mahasiswa mudah lupa alur materi, tidak memahami poin penting, dan kesulitan menjawab pertanyaan. Kondisi ini meningkatkan kecemasan dan memengaruhi penyampaian.
Strategi Efektif untuk Mengatasi Public Speaking Anxiety
Mengurangi kecemasan berbicara di depan umum membutuhkan latihan dan strategi komunikasi yang tepat. Beberapa langkah berikut dapat membantu mahasiswa tampil lebih percaya diri:
1. Memahami Audiens
Membangun pemahaman tentang karakteristik audiens dapat menurunkan kecemasan. Ketika mahasiswa menyadari bahwa audiens adalah sesama pembelajar, rasa takut dinilai dapat berkurang.
2. Gunakan Bahasa yang Jelas dan Sederhana
Bahasa yang lugas membuat proses penyampaian lebih mudah. Mahasiswa tidak terbebani dengan istilah sulit dan audiens dapat memahami materi dengan lebih cepat.
3. Latihan Berbicara Mandiri
Berlatih di depan cermin, melakukan self-recording video, atau mencoba menjelaskan materi kepada teman dapat meningkatkan kemampuan sekaligus memperbaiki kekurangan secara bertahap.
4. Terapkan Teknik Pengendalian Kecemasan
Teknik pernapasan teratur, memberikan jeda saat berbicara, serta membangun positive self-talk dapat membantu menenangkan diri. Ingat: kesalahan kecil dalam presentasi adalah hal wajar.
Penutup
Public speaking anxiety bukanlah kondisi yang harus ditakuti secara berlebihan. Dengan memahami penyebabnya dan menerapkan strategi yang tepat, mahasiswa dapat menguasai kecemasan tersebut dan mengubahnya menjadi kekuatan. Kemampuan komunikasi yang baik tidak hanya penting di ruang kelas, tetapi juga menjadi bekal berharga untuk dunia profesional di masa depan.
Penulis: Naylal Hayati Kurniyawan
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (*)







