Opini, Semartara.News – Setiap 12 November, banyak anak di Indonesia merayakan Hari Ayah dengan penuh kehangatan. Ada yang menulis surat kecil, memberikan hadiah sederhana, atau sekadar memeluk ayah mereka sambil berbisik, “Terima kasih sudah menjagaku.” Hari Ayah sering menjadi momen intim antara anak dan ayah—sebuah jeda kecil untuk merayakan sosok yang selama ini membimbing, melindungi, dan menjadi penopang dalam keluarga.
Namun, di balik senyum dan perayaan itu, ada cerita lain yang berjalan dalam diam. Tidak semua anak tumbuh dengan kehadiran ayah yang utuh. Ada yang ditinggalkan, ada yang tidak diakui, ada yang kehilangan, ada pula yang memiliki ayah secara fisik tetapi tidak secara emosional. Mereka tetap hidup, tetap tumbuh, tetapi menyimpan ruang kosong yang sulit dijelaskan. Di sinilah istilah fatherless menemukan maknanya: sebuah kondisi ketika peran ayah absen dalam kehidupan anak—baik secara fisik maupun batin.
Ketidakhadiran yang Menjadi Luka Sunyi
Fatherless bukan sekadar label sosial. Bagi banyak anak, ia terasa seperti menjadi yatim sebelum waktunya. Ketika figur ayah yang seharusnya memberi rasa aman, arah, dan teladan justru tak hadir, anak sering berjuang sendirian dalam proses tumbuh kembangnya. Mereka belajar menata diri di tengah kekosongan, mencoba memahami sesuatu yang tidak pernah mereka punya.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Inggris, Prancis, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea pun menghadapi masalah serupa. Penyebabnya berbeda-beda—perceraian, konflik keluarga, ketidakhadiran emosional, bahkan penolakan. Tetapi dampak yang dirasakan anak pada dasarnya sama: hilangnya sosok yang semestinya membantu mereka memahami dunia.
Dampaknya Nyata, Meski Sering Dianggap Biasa
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh tanpa peran ayah cenderung mengalami hambatan dari segi emosional, sosial, hingga akademik. Cara didikan ayah dan ibu berbeda; ketika salah satunya tidak terpenuhi, keseimbangan pengasuhan ikut terganggu. Anak fatherless sering tumbuh menjadi pribadi yang:
- Kurang percaya diri,
- Pemalu atau justru mudah marah,
- Kesulitan mengambil keputusan,
- Lebih rentan secara emosional,
- dan memiliki motivasi belajar yang lebih rendah.
Sebaliknya, anak-anak yang mendapat keterlibatan ayah secara aktif—bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga memberi dukungan emosional—cenderung lebih berani, mandiri, tegas, dan percaya diri. Kehadiran ibu yang penuh kasih sayang memang tetap menjadi fondasi penting, tetapi figur ayah memberikan warna lain dalam proses pembentukan karakter.
Hari Ayah: Perayaan Bagi Sebagian, Pengingat Luka bagi Sebagian Lain
Di tengah ucapan manis dan hadiah penuh cinta, ada banyak anak yang hanya bisa diam. Bukan karena mereka tak ingin berterima kasih, tapi karena mereka tak punya sosok yang bisa dipanggil ayah. Fatherless bukan sekadar cerita sedih; ia adalah kenyataan yang membentuk cara anak-anak melihat dunia, mencintai diri, dan mempercayai orang lain.
Maka, Hari Ayah bukan hanya untuk merayakan peran mereka yang hadir, tetapi juga untuk mengingat anak-anak yang tumbuh kuat dalam ketidaklengkapan. Mereka yang belajar mencintai meski tak pernah merasakan dicintai oleh ayahnya. Mereka yang berjuang memahami diri tanpa contoh yang seharusnya membimbing langkah awal mereka.
Anak-anak ini tetap layak dirayakan—atas keberanian mereka, ketangguhan mereka, dan perjalanan sunyi yang jarang terlihat.
Yang Dicari Tidak Pernah Menoleh
Anak kecil berumur lima tahun itu menangis,
Mencari ayah yang entah berada di mana.
Di lantai ia berguling, memanggil namanya,
Mengira semua ayah adalah miliknya.
Waktu berjalan, membawanya bertemu sang ayah.
Tapi mereka tak saling sapa,
Tak saling kenal,
Hanya diam, layaknya orang asing.
Dan ketika seseorang bertanya,
“Siapa dia?”
Sang ayah menjawab,
“Aku tidak tahu.”
Lima belas tahun berlalu,
Namun suara itu tak pernah padam,
Tersimpan di hati seorang anak
Yang hanya ingin dikenal oleh ayahnya.
Puisi ini lahir dari pengalaman nyata yang masih membekas dalam hidup saya. Setiap barisnya adalah bagian dari perasaan yang dulu sulit diungkapkan ketika masih kecil—perasaan ingin dikenal, ingin dianggap ada. Saya menuliskan ini agar siapa pun yang membaca bisa memahami bagaimana rasanya menjadi anak yang tidak pernah ditoleh oleh ayahnya sendiri.
Untuk kamu yang tumbuh dengan luka yang sama: tetap bertahan. Kamu tidak sendirian. Kita kuat, kita hebat, dan kita bisa melewati semuanya.
Penulis: Istiqamah Hilma Zahara, Mahasiswa semeter 1, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP,
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Artikel ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. (*)







