Kesehatan, Semartara.News — Cireng adalah salah satu jajanan kaki lima yang populer di Indonesia. Kudapan berbahan dasar aci ini mudah ditemukan di depan sekolah, pinggir jalan, pedagang gorengan, hingga produk beku di minimarket. Teksturnya yang kenyal, gurih, dan murah membuat cireng digemari berbagai kalangan. Namun di balik kesederhanaannya, cireng memiliki banyak aspek penting yang menarik untuk dikaji dari sudut pandang ilmu pangan—mulai dari komposisi gizi, proses pengolahan, hingga faktor keamanan pangannya.
Artikel ini membahas cireng secara lebih mendalam serta memberikan panduan agar konsumsinya tetap aman dan bijak. Pemahaman ini penting, terutama di era ketika kesadaran masyarakat terhadap pangan sehat semakin meningkat.
1. Tepung Tapioka: Energy-Dense tetapi Minim Nutrisi Tambahan
Bahan utama cireng adalah tepung tapioka. Tepung ini merupakan ekstrak pati murni dari singkong. Karena hanya mengambil fraksi patinya, kandungan karbohidrat dalam tepung tapioka menjadi sangat tinggi, sementara protein, vitamin, mineral, dan serat hampir tidak ada.
Dari sudut gizi, kondisi ini menjadikan cireng sebagai sumber energi cepat tanpa penyeimbang. Makanan berbahan pati murni seperti ini tidak memberi rasa kenyang yang lama dan dapat memicu kenaikan gula darah yang lebih cepat dibandingkan karbohidrat kompleks.
Bagi individu dengan prediabetes, diabetes, atau yang sedang menjalani diet pengendalian gula, konsumsi cireng berlebihan sebaiknya dihindari karena indeks glikemiknya relatif tinggi.
2. Pengolahan dengan Deep Frying: Lemak Tinggi dan Risiko Oksidasi
Permasalahan utama pada cireng sebenarnya muncul saat proses penggorengan. Teknik deep frying membuat minyak terserap cukup banyak ke dalam produk. Apalagi jika minyak dipakai berulang kali, kualitasnya semakin menurun.
Minyak yang terus dipanaskan dapat menghasilkan:
- Senyawa oksidatif yang dapat memicu inflamasi
- Asam lemak trans yang berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung
- Radikal bebas yang merusak sel tubuh
Penelitian juga menunjukkan bahwa semakin gelap warna minyak dan semakin kental teksturnya, semakin besar degradasi kualitasnya. Ini penting dipahami karena banyak pedagang gorengan menggunakan minyak berulang demi efisiensi biaya.
3. Saus Cireng: Sumber Aditif yang Sering Tak Disadari
Cita rasa cireng kerap ditentukan oleh sausnya. Namun bumbu pedas, saus instan, atau bumbu kacang sering mengandung aditif seperti pengawet, pewarna sintetis, hingga penguat rasa.
Masalahnya:
- Produk UMKM atau pedagang kaki lima biasanya tidak mencantumkan komposisi secara rinci.
- Saus berwarna terlalu mencolok bisa menjadi indikator penggunaan pewarna pangan berlebih.
- Saus tinggi natrium dapat membebani ginjal, terutama bila dipadukan dengan gorengan tinggi lemak.
Bagi konsumen sensitif, aditif tertentu dapat menyebabkan pusing, mual, atau reaksi alergi ringan.
4. Higienitas: Tantangan dalam Produk Jualan Pinggir Jalan
Keamanan pangan adalah aspek lain yang perlu diperhatikan. Cireng yang dijual di tempat terbuka berpotensi terpapar debu, polusi, ataupun mikroorganisme. Faktor higienitas yang perlu diperhatikan antara lain:
- Kualitas air untuk mengolah adonan
- Kebiasaan penjual dalam menangani makanan
- Peralatan yang digunakan (pisau, talenan, wajan)
- Lama penyimpanan adonan pada suhu ruang
Cireng yang dibiarkan terlalu lama dapat menjadi media pertumbuhan bakteri. Pada produk skala besar atau frozen food, uji mikrobiologi sangat penting untuk menjamin keamanan konsumen.
5. Tips Mengonsumsi Cireng dengan Aman dan Bijak
Cireng bukan makanan berbahaya. Namun, seperti banyak makanan olahan lainnya, cireng perlu dikonsumsi secara bijak. Berikut beberapa langkah sederhana untuk tetap aman:
- Pilih penjual yang bersih dan tidak menggunakan minyak berwarna gelap atau berbau tengik.
- Batasi frekuensi konsumsi, terutama bagi yang memiliki masalah gula darah atau sedang diet.
- Untuk produk kemasan, baca label komposisi dan cek nilai gizinya.
- Hindari saus mencolok, cenderung terlalu asam atau terasa sangat kuat.
- Pertimbangkan alternatif seperti menggoreng cireng dengan air fryer atau membuat bumbu sendiri yang lebih sehat.
Dengan pendekatan yang lebih bijak, cireng tetap bisa menjadi bagian dari gaya hidup kuliner tanpa mengorbankan kesehatan.
Kesimpulan: Cireng Tetap Lezat, Asal Tahu Batas dan Risikonya
Cireng adalah bagian dari kekayaan kuliner Indonesia yang sudah melekat sejak lama. Namun dengan berkembangnya ilmu pangan, kita semakin memahami bahwa bahan makanan, proses pengolahan, dan kebiasaan konsumsi sangat memengaruhi nilai gizi dan kesehatannya.
Mengetahui risiko yang mungkin muncul dari produk berbahan pati murni, teknik deep frying, penggunaan minyak berulang, hingga aditif dalam saus dapat membantu kita menjadi konsumen yang lebih cerdas. Dengan demikian, cireng tetap dapat dinikmati sebagai camilan favorit tanpa merugikan kesehatan dalam jangka panjang.
Sumber Referensi
– Yamin, R. M., & Amaro, M. (2024). Analisis Mutu Kimia, Mikrobiologi dan Organoleptik Tempe Kedelai dengan Penambahan Tepung Tapioka (Manihot Esculenta). Jurnal Edukasi Pangan, 2(2), 64–77.
– Agung, G. S., & Rismaya, R. (2024). Pengaruh Suhu Pemanasan terhadap Karakteristik Mutu Minyak Goreng Bekas Pakai Pedagang Gorengan. Jurnal Teknologi Pertanian, 13(1), 15–23.
– Khairani, M., Naibaho, A. N. A., Armiati, R., & Holila, N. (2024). Keanekaragaman Olahan Kue Gorengan Berbasis Adonan Cireng. Journal of Management and Creative Business, 2(1), 49–55.
Penulis: Annisa Azzahrah Lubis
Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)







