Cegah Perundungan Sejak Dini, KKM 68 UNTIRTA Sosialisasikan Anti-Bullying di Dua Sekolah Dasar Kabupaten Serang

Mahasiswa KKM 68 UNTIRTA menggelar penyuluhan anti-bullying di SDN Sempu dan Mangkunegara untuk ciptakan sekolah ramah anak.
Mahasiswa KKM 68 UNTIRTA saat memberikan pemaparan materi anti-bullying menggunakan media visual yang interaktif kepada siswa SDN Sempu dan Mangkunegara. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan jenis-jenis perundungan seperti verbal, fisik, hingga cyber bullying agar siswa memahami dampaknya sejak dini. (Foto: Ist)

Cilegon, Semartara.News — Upaya mencegah perundungan sejak usia dini dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 68 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) melalui kegiatan sosialisasi anti-bullying di dua sekolah dasar di Kabupaten Serang, yakni SDN Sempu dan SDN Mangkunegara, Kecamatan Bojonegara beberapa waktu yang lalu.

Kegiatan penyuluhan tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bahaya bullying sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah bagi semua. Sasaran kegiatan adalah siswa kelas IV hingga VI, dengan jumlah peserta lebih dari 100 siswa dari kedua sekolah.

Dalam sesi pemaparan materi, mahasiswa mengenalkan berbagai bentuk perundungan, mulai dari bullying verbal, fisik, hingga cyber bullying. Antusiasme siswa terlihat saat sesi diskusi interaktif, di mana mereka diajak memahami dampak negatif perundungan terhadap kesehatan mental, hubungan sosial, serta prestasi belajar.

Materi penyuluhan disusun oleh mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan yang tergabung dalam KKM 68 UNTIRTA. Kolaborasi tersebut bertujuan agar penyampaian materi tidak hanya tepat secara teori, tetapi juga komunikatif dan mudah dipahami melalui metode pembelajaran yang menyenangkan.

Salah satu pemateri, Nayla, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk berkontribusi langsung dalam upaya pencegahan bullying di lingkungan sekolah.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa mengejek, mengucilkan, atau menyakiti teman termasuk tindakan bullying yang berdampak besar. Harapannya, mereka dapat saling menghargai dan berani melapor jika melihat atau mengalami perundungan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu, 8 Februari 2026.

Perwakilan mahasiswa lainnya, Nursaidah, menambahkan bahwa kegiatan ini juga bertujuan menumbuhkan keberanian dan empati pada diri siswa.

“Kami ingin siswa berani berkata tidak pada bullying, berani membela teman, serta tidak takut untuk bercerita kepada guru atau orang tua. Lingkungan sekolah yang sehat dimulai dari sikap saling menghormati,” jelasnya.

Ketua KKM 68 Mangkunegara, Erland Gunawan, menjelaskan bahwa pemilihan tema anti-bullying dilatarbelakangi oleh pentingnya penguatan pendidikan karakter di era digital. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Bullying merupakan persoalan serius yang dampaknya bisa berlangsung jangka panjang. Melalui penyuluhan ini, kami berharap siswa memiliki pemahaman sejak dini sehingga tercipta lingkungan sekolah yang aman dan ramah bagi semua,” ungkapnya.

Kegiatan tersebut juga mendapat apresiasi dari pihak sekolah. Para guru menilai kehadiran mahasiswa memberikan kontribusi positif dalam penguatan pendidikan karakter di lingkungan sekolah.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKM. Harapannya, pesan yang disampaikan dapat terus diingat dan diterapkan oleh siswa, baik di sekolah maupun di rumah,” ujar salah satu perwakilan guru.

Melalui sosialisasi anti-bullying ini, mahasiswa KKM 68 UNTIRTA berharap dapat menumbuhkan kesadaran, empati, dan sikap saling menghargai di kalangan siswa, sekaligus memperkuat sinergi antara mahasiswa, sekolah, dan masyarakat dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang bebas dari perundungan. (*)

Tinggalkan Balasan