Banten, Semartara.News – Ekonomi Banten menunjukkan performa yang impresif sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), provinsi ini berhasil mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 5,37%, melonjak cukup signifikan dibandingkan capaian tahun 2024 yang tertahan di angka 4,79%.
Tren positif ini mencapai puncaknya pada triwulan IV-2025, di mana ekonomi Banten melesat 5,64% (y-on-y), menjadikannya rekor pertumbuhan tertinggi sejak masa pandemi berakhir.
Berikut adalah beberapa poin kunci yang mendorong laju ekonomi Banten menurut analisis akademisi Untirta, Hady Sutjipto:
1. Faktor Pendorong Utama
Pertumbuhan yang kuat di akhir tahun dipicu oleh kombinasi faktor musiman dan struktural:
Belanja Pemerintah & Konsumsi: Optimalisasi penyerapan APBN/APBD serta lonjakan mobilitas masyarakat selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang menggairahkan sektor pariwisata.
Investasi yang Masif: Terjadi lonjakan investasi (PMA dan PMDN) yang sangat tajam, yakni tumbuh 108,95% dengan nilai mencapai Rp130,2 triliun.
Pembangunan Infrastruktur: Proyek strategis seperti jalan tol, stasiun, dan kawasan industri menjadi mesin penggerak sektor konstruksi.
2. Kebijakan Daerah yang Berdampak
Sejumlah program Pemerintah Provinsi Banten dinilai memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat:
Aksesibilitas Desa: Program Bang Andra (Bangun Jalan Desa Sejahtera) sukses membuka keterisolasian di wilayah Lebak dan Pandeglang. Infrastruktur yang lebih baik ini mempermudah petani mendistribusikan hasil panen dan menekan angka kemiskinan.
Peningkatan SDM: Kebijakan Sekolah Gratis untuk jenjang SMA/SMK/SKh swasta menjadi angin segar bagi keluarga kurang mampu. Program ini diproyeksikan bakal mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan lama rata-rata sekolah di Banten.
Proyeksi ke Depan
Meski struktur ekonomi masih didominasi sektor industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi, tantangan berikutnya adalah menciptakan pertumbuhan yang inklusif.
“Pemerintah daerah perlu terus mendorong investasi di sektor padat karya. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi bisa sejalan dengan penciptaan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat,” ujar Hady. (*)







