SEMARTARA, Kota Tangerang – Sebanyak sepuluh unit bus Trans Tangerang yang terparkir di park and ride Terminal Poris Plawad kondisinya memprihatinkan. Kesepuluh bus bantuan Kementerian Perhubungan tahun anggaran 2010 ini, kini tidak lagi dioperasikan sehingga mubazir.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Tangerang, Saeful Rohman mengatakan, kesepuluh bus yang sebelumnya difungsikan sebagai bus line sudah tidak lagi dioperasikan sejak 2016 lalu.
“Bus ini dulunya melayani Poris Plawad – Taman Anggrek. Karena ada kebijakan dari Gubernur DKI yang membatasi trayek hingga sampai terminal Kalideres,” ucapnya, Senin (2/7).
Akibat pembatasan trayek tersebut, lanjut Saeful, membuat operator bus (Damri) merugi sehingga tidak mampu menutup biaya operasional trayek tersebut yang berdampak kepada pemutusan sepihak operasional bus tersebut. Dirinya mengaku Pemkot Tangerang sudah berupaya agar keberadaan kesepuluh bus tersebut tidak mubazir. Yakni dengan cara melakukan pelelangan ulang, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena tidak ada investor yang meminati. Dishub pun mencoba memanfaatkannya untuk BRT, namun tidak memungkinkan karena ukuran bus yang besar.
“Kondisi jalan di Tangerang kan tidak selebar di Jakarta, sehingga bus tersebut tidak layak untuk dipergunakan untuk BRT,” ujarnya.
Himpunan Semartara.com, terdapat tiga bus yang kondisinya memprihatinkan. Diantaranya bus dengan nomor polisi (Nopol) B 7189 IG, nampak mengalami ban kempis pada bagian depan sebelah kiri, kemudian bus nopol B 7049 IG ban kempis pada bagian belakang sebelah kanan. Sementara ketidaklengkapan bagian body dialami pada bus nopol B 7145 IG, pada unit tersebut tidak ada pelindung aki yang terdapat di bagian belakang sebelah kanan. Bahkan di unit nopol B 7045 IG interior bus dipenuhi sarang laba-laba.
Menindaklanjuti hal tersebut, Walikota Tangerang, Arief Wismansyah meminta kepada Dishub untuk menjadikan kesepuluh bus tersebut menjadi bus pariwisata kota. Adapun pengelolaannya apakah akan digratiskan atau dipungut biaya, dirinya mengaku akan membahas masalah tersebut.
“Ada beberapa yang sudah kami rencanakan untuk kearah sana, mudah mudahan secepatnya dapat direalisasikan menjadi bus pariwisata dalam kota,” tukasnya
Pihaknya juga mengaku telah mengusulkan kepada badan keuangan dan aset daerah (BPKAD) untuk melakukan penghapusan terhadap beberapa unit bus dari aset Dishub. Hal itu disebabkan karena pemanfaatannya yang tidak sesuai.
“Untuk trans Tangerang tidak bisa menggunakan bus itu, ukurannya lebar dan besar,” pungkasnya. (Helmi)