Opini  

Informasi Jadi Uang, Peluang Bisnis yang Sering Terlewatkan

Opini tentang peluang kewirausahaan informasi di era digital dan tantangan mahasiswa ilmu perpustakaan membangun bisnis berbasis pengetahuan.
Rizki Rahmatuloh. (Foto: Dok. Pribadi)

Opini, Semartara.News – Di zaman serba digital sekarang ini, informasi bukan lagi sekadar pelengkap, tapi sudah berubah jadi barang berharga yang bisa menghasilkan uang. Inilah yang disebut dengan kewirausahaan informasi. Intinya sederhana: ini bukan cuma soal jual-beli data yang rumit, tapi tentang kemampuan kita mengolah pengetahuan yang kita punya menjadi sesuatu yang berguna dan memberi solusi buat orang lain. Sayangnya, banyak orang—termasuk di lingkungan kampus—masih mengira bisnis informasi itu cuma sebatas jualan buku atau fotokopi makalah.

Kalau kita lihat tren dunia saat ini, peluang bagi lulusan jurusan ilmu informasi dan perpustakaan sebenarnya sangat besar untuk menjadi pebisnis di bidang ini. Tapi sayangnya, peluang emas ini sering terhalang oleh anggapan kuno bahwa orang yang bekerja dengan “informasi” itu tempatnya cuma di balik meja perpustakaan yang sunyi. Banyak yang belum sadar kalau informasi itu bisa dijual, atau mereka kurang ide untuk memanfaatkannya secara digital. Alhasil, mental pebisnisnya belum terbentuk kuat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa bisnis informasi itu bukan cuma soal punya modal uang, tapi soal kreativitas dan melek teknologi. Data mentah saja tidak cukup. Data itu harus diolah jadi wawasan yang bisa membantu orang mengambil keputusan. Kalau tidak bisa mengolahnya, informasi itu cuma jadi sampah digital yang menumpuk. Ketika kita malas berpikir kreatif untuk “mengemas” informasi, maka kesempatan kita untuk menciptakan lapangan kerja sendiri jadi makin sempit.

Situasi seperti ini akhirnya bikin profesi pengelola informasi jadi terlihat tertinggal dibanding profesi lain. Coba lihat sekarang, banyak konten kreator, analis data, atau konsultan independen yang justru sukses besar dari bisnis pengetahuan ini. Padahal, mahasiswa ilmu informasi sebenarnya punya bekal ilmu yang lebih kuat soal bagaimana cara mencari dan merapikan informasi dengan benar.

Contoh nyata dari bisnis ini sebenarnya sangat beragam dan ada di sekitar kita. Misalnya, jasa riset sederhana untuk membantu pedagang kecil (UMKM) memahami tren pasar, layanan langganan ringkasan berita (newsletter) berbayar, hingga menjadi konsultan yang membereskan arsip digital perusahaan. Bahkan, menjadi konten kreator yang khusus membahas ulasan buku mendalam atau merapikan fakta sejarah menjadi tontonan menarik di media sosial juga termasuk bentuk “jualan” informasi. Di sini, yang kita jual bukan sekadar datanya, tapi “kemudahan” bagi orang lain yang tidak punya waktu untuk mencari dan memilah informasi itu sendiri.

Kesimpulan

Bisnis informasi di Indonesia masih ada di persimpangan jalan. Pasarnya sudah ada dan luas, tapi keberanian kita untuk terjun ke sana masih kurang. Selama kita masih menganggap informasi itu cuma benda mati yang diam di rak buku, bukan aset hidup yang bisa jadi uang, maka kita akan sulit mandiri secara ekonomi. Makanya, kita perlu mulai mengasah skill digital, ubah pandangan kuno soal profesi pustakawan, dan berani ambil risiko bisnis. Supaya kewirausahaan informasi ini tidak cuma jadi teori di kelas, tapi benar-benar jadi pekerjaan yang menjanjikan.

Penulis: Rizki Rahmatuloh, Mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam, Fakultas Ushuluddin dan Adab, Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten. (*)

Tinggalkan Balasan