Opini  

Transformasi Gaya Bahasa Mahasiswa dalam Interaksi di Media Sosial

Transformasi gaya bahasa mahasiswa di media sosial mengubah cara berkomunikasi, dari ekspresi digital hingga tantangan dalam konteks formal.
Najla Al-Nadiah Ekawanti. (Foto: Dok. Pribadi)

Opini, Semartara.News — Perkembangan media sosial dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar dalam cara mahasiswa berinteraksi dan mengekspresikan diri. Platform seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter) bukan lagi sekadar ruang berbagi informasi, tetapi telah menjadi arena pembentukan gaya bahasa, ekspresi emosi, hingga cara berpikir. Waktu yang dihabiskan mahasiswa di ruang digital berlangsung begitu intens sehingga pola komunikasi mereka sehari-hari semakin terpengaruh oleh dinamika yang hidup di dalamnya. Ritme cepat, pola praktis, dan dominasi visual yang melekat pada media sosial pun perlahan membentuk ulang cara mereka berkomunikasi, baik dalam situasi informal maupun dalam konteks akademik.

Media sosial memberikan ruang yang mendorong bahasa menjadi ringkas, langsung, dan penuh ekspresi. Emoji, stiker, reaksi cepat, hingga berbagai simbol digital mengambil alih fungsi kalimat-kalimat panjang yang sebelumnya dibutuhkan untuk menggambarkan emosi. Dalam banyak hal, bentuk komunikasi visual ini justru membantu memperjelas maksud pesan, membuatnya lebih hidup dan ekspresif. Mahasiswa juga semakin kreatif menggunakan meme, unggahan singkat, dan komentar bernuansa humor sebagai cara berkomunikasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan budaya digital turut membentuk gaya bertutur generasi muda, sebuah perubahan yang tidak dapat dihindari di era kini.

Namun, perubahan tersebut tidak hadir tanpa tantangan. Kebiasaan menggunakan bahasa yang santai, singkat, dan informal sering kali terbawa ke konteks yang seharusnya formal. Tidak jarang mahasiswa menulis pesan kepada dosen dengan gaya bertutur yang terlalu kasual, atau bahkan menulis laporan akademik dengan struktur yang kurang rapi dan pilihan bahasa yang tidak sesuai kaidah. Selain itu, kenyamanan dalam berkomunikasi berbasis layar membuat sebagian mahasiswa kurang percaya diri saat harus berbicara langsung. Kontak mata, intonasi, serta kemampuan menyampaikan argumen lisan menjadi kurang terlatih karena lebih sering digantikan oleh teks dan simbol digital.

Perubahan gaya komunikasi juga berpengaruh pada cara mahasiswa memahami pesan. Di media sosial, konteks sering kali tergerus oleh kecepatan informasi. Komunikasi yang terlalu singkat membuka peluang terjadinya salah tafsir, terutama ketika pesan tidak disampaikan secara lengkap. Sementara itu, dalam dunia akademik, kemampuan membaca konteks dan menyampaikan gagasan secara runtut adalah kunci. Ketika mahasiswa terbiasa dengan format komunikasi instan, tidak jarang mereka kesulitan merangkai ide yang komprehensif dan analitis. Meski demikian, media sosial tidak sepenuhnya melemahkan kemampuan berpikir; ia dapat melatih kecepatan, adaptasi, dan kreativitas. Hanya saja, kemampuan-kemampuan tersebut perlu diimbangi dengan kecakapan berpikir mendalam yang menjadi fondasi kegiatan ilmiah.

Ratnasari dan Fitriyanti (2024) menegaskan bahwa media sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap gaya komunikasi mahasiswa. Namun, temuan tersebut perlu dipahami secara lebih luas. Pengaruh media sosial tidak berdiri sendiri; ia berkelindan dengan lingkungan kampus, kebiasaan belajar, pola pergaulan, serta kemampuan adaptasi tiap individu. Mahasiswa yang mampu membaca konteks biasanya dapat menyesuaikan gaya bahasa dengan tepat. Sebaliknya, mereka yang terlalu bergantung pada pola komunikasi digital cenderung mengalami kesulitan saat dituntut menggunakan komunikasi formal.

Pada akhirnya, media sosial memang membentuk cara mahasiswa berkomunikasi—tetapi pengaruh itu bersifat kompleks. Di satu sisi, ia membuka ruang kreativitas dan memperkaya ekspresi. Di sisi lain, ia dapat mengaburkan batas-batas etika komunikasi, ketelitian berbahasa, dan kemampuan berbicara langsung. Karena itu, yang dibutuhkan mahasiswa bukan sekadar kemampuan menguasai bahasa digital, tetapi kesadaran komunikatif: kemampuan memilih gaya tutur yang tepat sesuai tujuan, audiens, dan situasi. Dengan keseimbangan antara kecakapan digital dan kecakapan berbahasa formal, mahasiswa tidak hanya dapat beradaptasi dengan tuntutan akademik, tetapi juga tetap relevan dan kompeten di tengah derasnya arus komunikasi era digital.

Sumber:
Ratnasari, D., & Fitriyanti, N. (2024). Pengaruh media sosial terhadap gaya komunikasi mahasiswa di era digital. Central Publisher, 2(9), 2616–2623.

Penulis: Najla Al-Nadiah Ekawanti
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

Tinggalkan Balasan