Mahasiswa Realistis: Apa Salahnya?

Mahasiswa sebagai agen perubahan menghadapi tantangan realitas. Mari kita dukung mereka untuk beradaptasi dan berinovasi demi masa depan.
Ilustrasi: (foto: viva.co.id/freepik)

Opini, Semartara.news — Ketika kita membicarakan mahasiswa, sering kali kita membayangkan sosok idealis yang penuh semangat dan harapan. Namun, seiring berjalannya waktu, idealisme tersebut dapat memudar, terutama ketika mahasiswa dihadapkan pada tuntutan untuk mencari pekerjaan dan sumber penghidupan, baik untuk diri sendiri maupun keluarga. Dalam konteks ini, penting untuk mempertanyakan: apa sebenarnya yang salah dengan menjadi mahasiswa yang realistis?

Mahasiswa sering kali dijuluki sebagai agen perubahan, simbol harapan bagi masa depan bangsa. Namun, kita harus ingat bahwa mereka juga manusia biasa, bukan dewa yang memiliki segala kekuasaan. Beban yang diletakkan pada mahasiswa untuk menjadi agen perubahan sering kali tidak sebanding dengan dukungan yang mereka terima. Di negeri yang penuh dengan ironi ini, banyak hal dapat dibeli, termasuk hukum, yang sering kali berpihak pada mereka yang memiliki uang. Akibatnya, perjuangan yang tulus dari mahasiswa dan masyarakat yang lebih luas sering kali terabaikan.

Agen perubahan seharusnya melibatkan semua komponen masyarakat. Pemerintah, sebagai bagian dari masyarakat, seharusnya hadir sebagai penyambung lidah rakyat, bukan sekadar bersilat lidah tanpa memperhatikan keresahan yang dialami banyak orang. Mahasiswa yang telah lulus sebaiknya tidak terlalu berharap pada pemerintah, karena kebijakan yang ada sering kali tidak berpihak pada kemaslahatan umum, melainkan pada kepentingan tertentu yang tidak kita ketahui. Dalam banyak kasus, kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah berujung pada keuntungan bagi segelintir orang, sementara rakyat tetap terjebak dalam ketidakadilan.

Kondisi ini menciptakan sebuah dilema bagi mahasiswa. Di satu sisi, mereka diharapkan untuk menjadi agen perubahan yang aktif dan kritis. Di sisi lain, mereka juga harus menghadapi realitas pahit di lapangan kerja yang semakin sempit dan persaingannya yang semakin ketat. Dalam situasi seperti ini, penting bagi mahasiswa untuk mengadopsi sikap realistis. Tidak ada salahnya untuk mengambil pekerjaan apa pun, daripada hanya berpangku tangan dan menjadi “kacung” pemerintah, yang pada akhirnya hanya akan membawa rasa resah dan gelisah.

Kita juga tidak bisa mengabaikan stigma yang melekat pada Generasi Z, yang sering kali dianggap sebagai generasi yang paling buruk dalam hal bekerja. Meskipun ada sebagian yang mungkin mencerminkan hal tersebut, kita tidak seharusnya mengeneralisasi dan menganggap seluruh generasi ini sebagai generasi yang zalim dalam mencari pekerjaan. Setiap generasi memiliki tantangan dan keunikan tersendiri. Generasi Z, misalnya, tumbuh di era digital yang penuh dengan peluang dan tantangan baru. Mereka memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat, memanfaatkan teknologi, dan menciptakan inovasi yang dapat mengubah cara kita bekerja.

Oleh karena itu, mari kita, khususnya mahasiswa dan sarjana, tidak merasa minder meskipun generasi sebelumnya mungkin tidak berpihak kepada kita. Kita harus berjuang untuk menggapai cita-cita, menerapkan prinsip kerja yang fleksibel, dan berbisnis dengan cara yang baik dan benar. Dengan semangat yang realistis, kita dapat menciptakan perubahan yang berarti, tidak hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk masyarakat.

Kita perlu membangun jaringan yang kuat, saling mendukung, dan berbagi pengetahuan. Kolaborasi antar mahasiswa, alumni, dan profesional di berbagai bidang dapat membuka peluang baru dan menciptakan ekosistem yang lebih baik untuk semua. Selain itu, penting bagi kita untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di dunia kerja. Pendidikan tidak berhenti di bangku kuliah; kita harus terus mengasah keterampilan dan pengetahuan kita agar tetap relevan di pasar kerja yang terus berubah.

Akhirnya, mari kita ingat bahwa menjadi mahasiswa yang realistis bukan berarti kita menyerah pada impian kita. Sebaliknya, ini adalah langkah cerdas untuk menghadapi tantangan yang ada. Dengan sikap yang realistis, kita dapat mengubah tantangan menjadi peluang, dan bersama-sama, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik untuk diri kita sendiri dan untuk bangsa. Mari kita berjuang, berinovasi, dan berkontribusi dengan cara yang positif, karena perubahan sejati dimulai dari diri kita sendiri.

Penulis: Rizki Saputro, S. Hum (Sarjana Humaniora), tinggal di Brebes, Jawa Tengah. (*)

Tinggalkan Balasan